Perkembangan Manufaktur Hijau
Pembangunan industri manufaktur dan urbanisasi adalah alasan utama peningkatan timbulan sampah dan pencemaran lingkungan. Limbah industri dengan komposisi kimia berpotensi berbahaya bagi kesehatan. Pembuangan limbah tanpa pengolahan ini menyebabkan pencemaran tanah dan air. Selain itu, pelepasan limbah industri di sungai dan badan air lainnya juga merusak habitat lokal. Selain itu, sampah elektronik juga menjadi sumber utama pencemaran lingkungan. Agar tetap kompetitif di pasar global, produsen berada di bawah tekanan yang luar biasa untuk meningkatkan produktivitas. Produsen juga sadar akan pentingnya tanggung jawab terhadap lingkungan, yang melahirkan konsep manufaktur yang sadar lingkungan, yang dikenal dengan manufaktur hijau. Tujuan akhir manufaktur hijau adalah untuk mengurangi dan meminimalkan dampak lingkungan dan konsumsi sumber daya selama siklus hidup produk, yang meliputi desain, sintesis, pemrosesan, pengemasan, transportasi, dan penggunaan produk dalam industri manufaktur (Ahmad, 2015).
Manufaktur hijau adalah konsep yang relatif baru untuk industri manufaktur. Manufaktur hijau muncul karena kesadaran global yang lebih tinggi akan risiko lingkungan. Manufaktur hijau menangani sejumlah masalah manufaktur; termasuk konservasi, pengelolaan limbah, pasokan air, perlindungan lingkungan, kepatuhan terhadap peraturan, pengendalian polusi, dan berbagai permasalahan lain yang terkait. Manufaktur hijau juga terkait dengan 4R; pengurangan, penggunaan ulang, daur ulang, dan pemanufakturan ulang (Bergmiller, 2006).
Salah satu pendekatan yang didopsi oleh banyak perusahaan manufaktur adalah pengembangan pada tiga bidang: energi hijau, produk hijau, dan proses hijau dalam operasi bisnis. Energi hijau adalah langkah pertama dan terpenting bagi industri manufaktur. Energi hijau mencakup produksi dan penggunaan energi yang lebih bersih. Energi hijau memanfaatkan sumber energi terbarukan, dan mencapai efisiensi energi yang lebih tinggi dalam operasi. Mengembangkan produk yang lebih ramah lingkungan adalah langkah kedua. Produk hijau sangat terkait dengan produk dengan jejak karbon rendah, produk yang dapat didaur ulang, produk dengan material organik dan alami. Proses hijau dalam operasi adalah proses ketiga. Motif utamanya adalah mengurangi timbulan limbah melalui operasi ramping, menurunkan jejak karbon, dan menghemat air; sehingga meningkatkan efisiensi operasional dan menurunkan biaya (Ahn, 2014).
Pada masa sekarang, banyak perusahaan manufaktur telah mengadopsi konsep manufaktur hijau. Alasan produsen untuk mempertimbangkan manufaktur hijau sebagai bagian terpadu dari operasi mereka adalah sebagai berikut. Pertama, meningkatnya biaya energi dan bahan baku lainnya. Kedua, meningkatnya daya tarik konsumen untuk produk ramah lingkungan. Ketiga, meningkatnya tekanan regulasi saat pembuat kebijakan memperkenalkan undang-undang lingkungan dan pengelolaan limbah yang baru dan lebih ketat. Keempat, kemajuan teknologi untuk membuka peluang bisnis baru yang menarik. Kelima, kebutuhan untuk meningkatkan diferensiasi kompetitif (Ahn, 2014).
Manufaktur hijau adalah bagian penting dari pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Manufaktur hijau, yang bila diintegrasikan dengan manufaktur ramping (lean manufacturing) akan mengarah ke manufaktur yang berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan (sustainable manufacturing). Manufaktur ramping bertujuan untuk menghasilkan produk berkualitas dengan biaya terendah dan waktu tersingkat. Saat ini, berbagai penelitian sedang dilakukan pada sistem manufaktur ramping untuk memasukkan komponen sistem manufaktur hijau dalam keseluruhan strategi mereka untuk mengurangi pemborosan (Ahmad, 2015).
Karena kesadaran akan pentingnya melindungi lingkungan tumbuh secara global, gerakan hijau untuk melestarikan sumber daya alam mendapatkan momentum, sehingga memberikan tekanan pada organisasi untuk mematuhi praktik-praktik bisnis yang ramah lingkungan. Sebagai tanggapan, selama dua dekade terakhir, organisasi telah menunjukkan peningkatan kepedulian untuk melestarikan lingkungan. Globalisasi juga meningkatkan tekanan pada organisasi manufaktur untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Oleh karena itu, kepedulian yang berkembang terhadap lingkungan secara bertahap telah tertanam dalam pemikiran perusahaan organisasi, yang akibatnya membantu mereka untuk merumuskan dan menyelaraskan strategi mereka. Meningkatnya tekanan dari pemerintah dan lembaga pengatur lingkungan berarti bahwa organisasi berada di bawah tekanan yang kuat terkait perlindungan lingkungan (Kalyar et al., 2020).
