Manufaktur Hijau : Pendahuluan (1)
Salah satu golongan industri manufaktur yang perlu mendapat perhatian adalah industri manufaktur berskala kecil dan menengah (untuk selanjutnya disebut IKM manufaktur). Dalam hal ini, IKM manufaktur merujuk pada industri manufaktur dengan jumlah tenaga kerja tetap antara 20 - 99 orang. Pengembangan IKM dipandang sebagai hal yang penting dalam pengembangan sektor industri (BPS, 2022). Rencana induk pembangunan industri nasional menyebutkan bahwa IKM memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah unit usaha yang berjumlah 3,4 juta unit dan merupakan lebih dari 90 persen dari unit usaha industri nasional. Peran tersebut juga tercermin dari penyerapan tenaga kerja IKM yang menyerap lebih dari 9,7 juta orang dan merupakan 65,4 persen dari total penyerapan tenaga kerja sektor industri non migas. Disamping itu, IKM juga memiliki ragam produk yang sangat banyak, mampu mengisi wilayah pasar yang luas, dan menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat luas serta memiliki ketahanan terhadap berbagai krisis yang terjadi. Dengan karakteristik tersebut, maka tumbuh dan berkembangnya IKM akan memberikan andil yang sangat besar dalam mewujudkan ekonomi nasional yang tangguh, dan maju yang berciri kerakyatan (RIPIN, 2015).
Disisi lain, industri manufaktur dituduh sebagai satu sektor yang banyak menggunakan sumber daya alam dan mencemari lingkungan dengan melepaskan polutan ke lingkungan sekitarnya. Dengan semakin meningkatnya masalah-masalah lingkungan, maka industri manufaktur dituntut untuk mampu mengembangkan sistem manufaktur yang dapat mengurangi pemakaian sumber daya alam dan pencemaran lingkungan dalam operasi mereka (Shrivastava & Shrivastava, 2017). Akibatnya, penerapan sistem manufaktur hijau telah menerima banyak perhatian dan menjadi bahan kajian dalam beberapa dekade terakhir. Secara ringkas, manufaktur hijau dapat dirujuk sebagai sistem manufaktur yang meminimalkan limbah dan polusi. Penekanannya adalah pada meminimasi penggunaan bahan baku dan penggunaan kembali komponen (Ghadimi et al., 2021).
Kajian literatur menunjukan bahwa banyak upaya telah dilakukan untuk menerapkan sistem manufaktur hijau di perusahaan besar dan mapan. Namun demikian, penelitian yang menyelidiki sistem manufaktur hijau di perusahaan kecil dan menengah masih relatif terbatas. Menurut Ghadimi et al. (2021), IKM adalah konteks penelitian yang relevan di bidang sistem manufaktur hijau karena berbagai alasan. Pertama, IKM biasanya tidak menyadari bahwa sistem manufaktur hijau adalah praktik-praktik terbaik menuju sistem manufaktur yang berkelanjutan. Hal ini terkait dengan kurangnya pengetahuan yang luas, sumber daya manusia, waktu dan anggaran. Kedua, daya saing global dan industrialisasi memaksa IKM untuk menguatkan struktur organisasi mereka dan menerapkan praktik-praktik, peraturan, dan standar manufaktur yang ramah lingkungan. Selama ini, banyak IKM dituduh sebagai sebagai sumber pencemaran lingkungan. Masih sedikit IKM yang menerapkan sistem manufaktur hijau untuk mengurangi beban lingkungan mereka. Ketiga, IKM biasanya tidak mendapat informasi yang baik tentang manfaat investasi pada sistem manufaktur hijau. Sistem manufaktur hijau pada umumnya akan mendatangkan manfaat bagi perusahaan dalam jangka panjang. Sementara IKM pada umumnya mengandalkan manfaat ekonomi dalam jangka pendek.
Lebih lanjut Ghadimi et al. (2021) mengemukakan bahwa sistem manufaktur hijau untuk IKM perlu diselidiki berdasarkan negara tertentu untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan sistem manufaktur hijau di berbagai negara. Berdasarkan pendapat ini, penelitian ini menetapkan empat tujuan sebagai berikut. Pertama, mengidentifikasi elemen-elemen pendukung keberhasilan penerapan sistem manufaktur hijau di IKM. Kedua, mengembangkan model hierarki konseptual elemen-elemen pendukung keberhasilan penerapan sistem manufaktur hijau di IKM berbasis pendekatan ISM. Ketiga, mengidentifikasi dan menganalisis elemen-elemen pendukung keberhasilan penerapan sistem manufaktur hijau yang dominan. Keempat, memberikan rekomendasi bagi praktisi industri dan pembuat kebijakan. Penelitian ini berpandangan bahwa temuan yang dilaporkan dalam penelitian ini akan berkontribusi pada pengembangan teori dan praktik dibidang sistem manufaktur hijau, utamanya dalam konteks IKM manufaktur.
